Apabila kita ditampar oleh seseorang, refleks dari kita biasanya akan membalas perbuatan tamparan tersebut. Bahkan lebih dari itu, jika kita ditampar sekali orang seseorang, kita malah ingin membalasnya dengan dua kali. Demikian juga apabila kita dihina oleh seseorang, refleks dari kita biasanya akan juga membalas hinaan tersebut. Tuhan Jesus juga berfirman melalui Sabdanya bahwa apabila ada seseorang yang menampar bagian pipi kanan kita, berikanlah juga pipi kananmu.
Ketika Tuhan Jesus menghadap Imam Besar, ia ditampar oleh salah seorang penjaga. Namun saat Tuhan Jesus ditampar, Dia tidak berdiam diri melainkan memberikan pipi kirinya. Bukan hanya itu saja Tuhan Jesus juga sembari memberikan pipi kiri, Ia pun berkata (Lihat Injil Yohanes pasal 18:22-23). Dimana di kita ini diceritakan bahwa Tuhan Jesus, juga membalas dengan kata-kata demikian “Apabila Aku bersalah, tunjukkanlah kesalahan-Ku, Namun bila Aku benar lantas mengapa engkau menamparku?”.
Sepintas bila kita melihat cerita renungan diatas, memang terlihat bertolak belakang, namun bila kita renungkan lebih dalam lagi, ada makna yang terdapat diajarkan oleh Tuhan Jesus lewat ilustrasi cerita tersebut. Tuhan Jesus tidaklah berdiam diri, saat diri-Nya ditampar, ia lantas memberikan pipi kirinya, kemudian bertanya dimana letak salahnya, dan mengapa ia sampai ditampar?” Untuk lebih jelasnya kita harus mengetahui terlebih dahulu makna dari ungkapan memberi pipi kiri.
Di zaman dahulu kala, di Israel apabila terjadi sengketa atau perselisihan dua orang di muka umum, seseorang boleh untuk memaki lawannya secara habis-habisan di muka umum. Dalam bahasa Yahudi itu disebut dengan menampar pipi. Setelah itu lawannya boleh membalas dengan cacian atau makian. Dalam gaya bahasa yahudi ini dikenal dengan membalas tamparan.
Pada zaman dahulu di Tanah Israel juga ada sebuah kebiasaan dalam hal pinjam meminjam barang. Misalkan apabila kita meminjam barang dari seseorang, maka seseorang tersebut berhak untuk meminta jaminan dari kita. Dan apabila kita lalai dalam memberikan jaminan tersebut maka kita dapat melaporkan pada pihak yang berwajib.
Ada pula kebiasaan lain yang terjadi di Israel di zaman dahulu kala yakni suatu kebiasaan dalam membantu orang asing. Apabila ada seseorang (orang asing) yang menanyakan suatu daerah maka kita diwajibkan untuk menunjukkan jalan dan juga menghantarkannya orang asing tersebut sejauh satu mil. Selain itu selama dalam perjalanan kita diwajibkan pula untuk menjaga keselamatan (bertanggung jawab) atas keselamatan orang asing itu.
Jadi sebenarnya makna yang bisa kita petik dan ambil dari seluruh ilustrasi diatas adalah tentang hak kita untuk digunakan oleh orang lain. Mungkin memang terlihat bahwa ketika kita merelakan hak tersebut, seakan kita terlihat kalah dari orang itu, sedangkan sebaliknya orang itu terlihat lebih menang dari kita. Namun ketahuilah tindakan itu bukanlah tentang kekalahan, melainkan tentang hal suatu tindakan mengalah. Kalah bukanlah berarti tak menang, sedangkan mengalah berarti dengan sengaja kalah atau tidak mempertahankan hal yang sudah seharusnya menjadi miliki kita.
Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari intisari artikel ini ialah bahwasnya dalam menjalin setiap relasi dengan sesama kita, tentunya akan timbul suatu konflik-konflik yang mungkin saja masalah atau konflik tersebut, bukanlah karena kelalaian atau kesalahan yang kita perbuat. Disinilah terlihat kedewasaan iman kita diuji dan sikap kita diasah untuk belajar mengalah. Kita belajar untuk mengasihi sesama manusia, terutama pada orang yang telah berbuat salah pada kita.
Terkadang kita harus mengalah dalam menghadapi orang yang tak sabar. Ingatlah bahwa mengalah itu bukanlah berarti suatu kekalahan, sebab dengan mengalah sering kali terjadi pada kita bahwa kita akan mendapatkan kemenangan.
Oleh sebab itu keberanian tidak dapat diukur dari pembalasan, tetapi dari sikap mengalah. Seseorang dikatakan berani bukan dilihat atau diukur dari bagaimana cara ia membalas, akan tetapi bagaimana cara ia rela mengalah untuk menghindari dari permusuhan dan perbuatan saling melukai sesama. Kiranya kasih Tuhan sumber cintah kasih terus memampukan kita untuk tetap mengasihi sesama meskipun telah terluka, Amen.
Ketika Tuhan Jesus menghadap Imam Besar, ia ditampar oleh salah seorang penjaga. Namun saat Tuhan Jesus ditampar, Dia tidak berdiam diri melainkan memberikan pipi kirinya. Bukan hanya itu saja Tuhan Jesus juga sembari memberikan pipi kiri, Ia pun berkata (Lihat Injil Yohanes pasal 18:22-23). Dimana di kita ini diceritakan bahwa Tuhan Jesus, juga membalas dengan kata-kata demikian “Apabila Aku bersalah, tunjukkanlah kesalahan-Ku, Namun bila Aku benar lantas mengapa engkau menamparku?”.
Sepintas bila kita melihat cerita renungan diatas, memang terlihat bertolak belakang, namun bila kita renungkan lebih dalam lagi, ada makna yang terdapat diajarkan oleh Tuhan Jesus lewat ilustrasi cerita tersebut. Tuhan Jesus tidaklah berdiam diri, saat diri-Nya ditampar, ia lantas memberikan pipi kirinya, kemudian bertanya dimana letak salahnya, dan mengapa ia sampai ditampar?” Untuk lebih jelasnya kita harus mengetahui terlebih dahulu makna dari ungkapan memberi pipi kiri.
Di zaman dahulu kala, di Israel apabila terjadi sengketa atau perselisihan dua orang di muka umum, seseorang boleh untuk memaki lawannya secara habis-habisan di muka umum. Dalam bahasa Yahudi itu disebut dengan menampar pipi. Setelah itu lawannya boleh membalas dengan cacian atau makian. Dalam gaya bahasa yahudi ini dikenal dengan membalas tamparan.
Pada zaman dahulu di Tanah Israel juga ada sebuah kebiasaan dalam hal pinjam meminjam barang. Misalkan apabila kita meminjam barang dari seseorang, maka seseorang tersebut berhak untuk meminta jaminan dari kita. Dan apabila kita lalai dalam memberikan jaminan tersebut maka kita dapat melaporkan pada pihak yang berwajib.
Ada pula kebiasaan lain yang terjadi di Israel di zaman dahulu kala yakni suatu kebiasaan dalam membantu orang asing. Apabila ada seseorang (orang asing) yang menanyakan suatu daerah maka kita diwajibkan untuk menunjukkan jalan dan juga menghantarkannya orang asing tersebut sejauh satu mil. Selain itu selama dalam perjalanan kita diwajibkan pula untuk menjaga keselamatan (bertanggung jawab) atas keselamatan orang asing itu.
Jadi sebenarnya makna yang bisa kita petik dan ambil dari seluruh ilustrasi diatas adalah tentang hak kita untuk digunakan oleh orang lain. Mungkin memang terlihat bahwa ketika kita merelakan hak tersebut, seakan kita terlihat kalah dari orang itu, sedangkan sebaliknya orang itu terlihat lebih menang dari kita. Namun ketahuilah tindakan itu bukanlah tentang kekalahan, melainkan tentang hal suatu tindakan mengalah. Kalah bukanlah berarti tak menang, sedangkan mengalah berarti dengan sengaja kalah atau tidak mempertahankan hal yang sudah seharusnya menjadi miliki kita.
Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari intisari artikel ini ialah bahwasnya dalam menjalin setiap relasi dengan sesama kita, tentunya akan timbul suatu konflik-konflik yang mungkin saja masalah atau konflik tersebut, bukanlah karena kelalaian atau kesalahan yang kita perbuat. Disinilah terlihat kedewasaan iman kita diuji dan sikap kita diasah untuk belajar mengalah. Kita belajar untuk mengasihi sesama manusia, terutama pada orang yang telah berbuat salah pada kita.
Terkadang kita harus mengalah dalam menghadapi orang yang tak sabar. Ingatlah bahwa mengalah itu bukanlah berarti suatu kekalahan, sebab dengan mengalah sering kali terjadi pada kita bahwa kita akan mendapatkan kemenangan.
Oleh sebab itu keberanian tidak dapat diukur dari pembalasan, tetapi dari sikap mengalah. Seseorang dikatakan berani bukan dilihat atau diukur dari bagaimana cara ia membalas, akan tetapi bagaimana cara ia rela mengalah untuk menghindari dari permusuhan dan perbuatan saling melukai sesama. Kiranya kasih Tuhan sumber cintah kasih terus memampukan kita untuk tetap mengasihi sesama meskipun telah terluka, Amen.



