Karena begitu senangnya saya memandangi bayi ini khotbah sang pendeta pun tak lagi saya dengar dan perhatikan. Mata saya berulang kali hanya memperhatikan gerak-gerik lucu dari bayi (balita) imut ini. Seperti ilustrasi keadaan di atas, seperti itulah yang terjadi dalam kehidupan kita ini. Pengalihan perhatian bisa datang dalam berbagai cara bentuk mapun ukuran yang tak terkira. Sesuatu yang seharusnya kita anggap amat penting seperti misalnya mengisi rohani kita dengan mendengarkan khotbah/ceramah Pendeta, namun justru kita mengabaikannya karena lantaran asyik melihat tingkah lucu sang bayi. Dalam alkitab Perjanjian Baru juga terjadi seperti ilustrasi diatas, bagaimana Marta saudara dari Maria lebih memilih asyik menyibukkan diri untuk memasak, menyapu dan membersihkan rumah, serta menghidangkan jamuan untuk Tuhan Jesus.

Memang sikap Marta benar bila kita pandang dari menjamu seseorang, namun bila kita lihat secara seksama bahwa dalam kitab Injil Lukas pasal ke 10 ayat 38 sampai dengan ayat ke 42. Diceritakan bahwa Marta tidak menghiraukan apa yang tengah dibicarakan oleh Tuhan Jesus. Seolah-olah Marta hanya perlu dan ingin melayani Tuhan Jesus dari segi menghidangkan makanan (memasak). Berbeda dengan Maria saudara dari Marta ini, Maria memilih untuk duduk di dekat Tuhan Jesus dan memperhatikan apa yang tengah dibicarakan oleh Tuhan Jesus (mengenai hal ini lihat dan baca Kitab Injil Lukas pasal ke sepuluh ayatnya yang ke 39).
Marta yang melihat Maria hanya duduk diam di dekat Jesus kemudian menggerutu lantaran Maria ini tak mau membantu Marta dalam menghidangkan sajian masakan. Tuhan Jesus yang melihat Marta Menggerutu kemudian tak tinggal diam, Lantas Tuhan Jesus pun berkata kepada Marta, sebab Maria telah memilih hal yang terbaik. Apabila kita memperhatikan perkataan Tuhan Jesus ini kita diingatkan bahwa hubungan kita dengan Tuhan jauh lebih penting dari segala hal apapun juga.
Hubungan kita dengan Tuhan ini jauh lebih teramat penting dari semua hal baik yang dapat membuat perhatian kita terpikat untuk sementara waktu. Beberapa orang ada yang mengatakan dan beranggapan bahwa sesuatu yang baik itu adalah menjadi penghalang, bagi suatu hal yang terbaik. Namun ketahuilah dan yakinilah bahwa bagi pengikut Tuhan Jesus Kristus sesuatu yang terbaik dalam hidup ini ialah dapat mengenal Tuhan Jesus & Segala Kebenaran-Nya serta berjalan bersama-Nya dalam ketetapan-Nya.
Ketika tengah asyik melihat seorang balita (bayi) di kebaktian sebuah Gereja saya pun jadi teringat dengan masa kecil saya dahulu, ketika menjadi seorang anak. Dimana salah satu kenangan yang paling indah semasa kecil saya, yang pernah saya alami adalah rutinitas tiap pagi hari ketika bangun tidur. Rutinitas tiap pagi tersebut adalah dimana orang tua saya terutama ayah saya masuk ke kamar tidurku dan memanggil namaku dengan penuh kelembutan kasih sayang. Dengan perlahan ayahku pun kemudian membangunkanku dan mengingatkan bahwa pagi sudah datang segera beraktifitas dan jangan lupa sarapan.
Sekarang waktu telah berganti dan kini aku beranjak dewasa dan menjadi seorang ayah atas anak-anaku. Rutinitas yang tempo dulu dilakukan oleh ayahku kini aku pun melakukannya terhadap semua anak-anakku. Aku pun teringat pada sebuah cerita dalam Alkitab Kita Kejadian, bahwa Abraham rela mempersembahkan anaknya (bernama Ishak). Pagi pagi buta Abraham sudah bangun dari tidurnya kemudian ia pergi ke tempat Ishak dan membangunkannya. Sontak hal ini pun mengingatkanku pada kejadian ketika aku membangunkan anakku di pagi hari.
Tentunya hari itu pada waktu Abraham hendak menepati Janjinya kepada Allah dimana akan mempersembahkan anaknya (Ishak) pastilah rasa bergejolak timbul dalam hati Abraham kala itu. Pastilah di pagi itu hati Abraham sedih bercampur aduk dengan cemas dan kecewa anaknya yang sudah dinantikannya sejak lama harus dipersembahkan untuk Tuhan Allah. Namun demi menepati perintah Tuhan Allah ia pun rela membangunkan anaknya dan akan mempersembahkannya.
Setelah Ishak bangun kemudian ia dan ayahnya (Abraham) berjalan pergi ke suatu tempat dimana ia akan dipersembahkan. Begitu kuatnya hati Abraham sebagai seorang Bapak, jalan bersama dengan anaknya yang dikasihi satu-satunya ini, yang mana ia harus kuat berjalan dan menunjukkan bahwa hari itu adalah perpisahan terakhirnya dengan anaknya tersebut. Lalu Ishak pun kemudian diletakkan di sebuah mezbah Tuhan, Namun ketika Ishak sudah siap dipersembahkan, kemudian perlahan Abraham perlahan mendengar perkataan Tuhan Allah bahwa Tuhan Allah sudah melihat hati dan kesungguhan Abraham menepati perintah-Nya. Lalu berfirmanlah Tuhan Allah kepada Abraham bapak dari Ishak ini, ambillah domba yang didekatmu itu dan gantikan posisi Ishak dengan domba tersebut. Lalu Abraham pun bergegas menggantikan anaknya (Ishak) ini dengan seekor domba sama seperti yang diperintahkan oleh Tuhan.
Setelah cerita pembersahan Abraham ini berlalu kemudian beratus ratus tahun selanjutnya, Tuhan Allah Bapa telah menyediakan korban keselamatan yang lain, yakni anak-Nya yang tunggal sendiri yaitu Kristus Jesus. Tuhan Allah sendiri melakukan ini karena lantaran ia mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya. Jadi jangan pernah lagi terbersit dalam pikiran kita untuk bertanya-tanya apakah benar kita dikasihi oleh Tuhan Allah? Sedikit pun kita tak boleh ragu akan Kasih Tuhan kepada kita. Sebab sudah barang tentu kita yang disebut sebagai anakNya ini dikasihi dan dipelihara olehNya. Oleh sebab itu kita harus selalu bersyukur senantiasa atas Kasih Allah yang sudah diberikan kepada kita sepanjang hari dan sepanjang hidup kita.




