Dari lapisan social kelas bawah hingga kelas atas sekalipun, anda membutuhkan yang namanya kepercayaan (trust). Kita menyembah Tuhan, karena Dia (Tuhan) memiliki trust. Dan memang dialah sumber dari segala trust. Integrity dan trust diibaratkan sebagai dua keeping sisi mata uang logam (koin) yang tak dapat dipisahkan. Seseorang yang tidak memiliki integritas, maka baginya hanya akan menunggu waktu menuju sebuah ambang kehancuran. Dan tanpa integritas,maka dengan mudahnya seseorang akan menipu dirinya sendiri maupun juga Tuhan.
Memanglah bukan perkara yang mudah untuk memiliki sebuah integritas. Hal ini dikarenakan integritas berbicara tentang komitmen, totalitas, serta kesetiaan secara keseluruhan. Apa yang telah kita ucapkan, maka itulah yang harus kita perbuat atau lakukan. Sebagai anak-anak Tuhan dan generasi terang dunia, sudah seharusnya kita umat Kristiani memiliki integritas. Apabila kita mengatakan “aku mengasihi Engaku Tuhan” atau “Tuhan adalah tujuan yang terutama dalam hidupku”, maka kita haruslah membuktikan ucapan kita tersebut dengan tindakan atau perbuatan. Sejauh manakah kita mengahasi Tuhan? Benarkah Tuhan adalah prioritas utama dalam kehidupan kita? Lalu apa buktinya?
Kita dapat mempelajari tentang integritas ini dari kehidupan Yohanes Pembaptis. Ia begitu benar-benar tulus dalam menjalani kehidupan dan tugasnya sebagai pandu untuk orang-orang sezamannya, agar dapat berjumpa dengan Mesias Sang Juru Selamat. Dua hari setelah pembaptisan Jesus Kristus, Yohanes Pembaptis masih berada di sekitaran sungai Yordan. Dalam kitab Perjanjian Baru Injil Yohanes Pasal 1 ayatnya yang ke 29 disebutkan bahwa, esok harinya Yohanes Pembaptis melihat Jesus. Masih dalam kitab yang sama dan pasal yang sama juga, Yohanes Pembaptis berkata ………”Lihatlah Anak Domba Allah” (Kitab Injil Yohanes pasal 1 ayat ke 35-36). Ucapan Yohanes Pembaptis tersebut terdengar oleh kedua orang muridnya. Kemudian setelah itu, kedua murid dari Yohanes tersebut pergi meninggalkannya dan mengikut Jesus.
Sejak awal pelayanannya, Yohanes Pembaptis dikenal sebagai seorang yang berseru-seru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Lewat perjumpaannya dengan Jesus tersebut, setelah acara pembaptisan tersebut, Yohanes Pembaptis pun semakin mencintai panggilannya. Hingga ia pun bukan hanya pembuka jalan, melainkan mau mengikut Jesus Kristus, Sang Jalan Kehidupan, sehingga genaplah seperti apa yang pernah diucapkannya dahulu kala, bahwa membuka kasut talinya pun tak layak (untuk mewujudkan tugas seorang pelayan/hamba), diwujud nyatakan dengan menjadi seorang pengikut Jesus Kristus yang setia.
Renungan Hari Ini : Oleh karena itu, saudara saudara seiman, ingatlah bahwa tugas perutusan tidaklah mudah, namun dimanapun kaki kita melangkah, maka kehadiran kita haruslah membawa damai dan sukacita. Mungkin sering kali dalam menjalankan tugas panggilan kita, tak jarang kita menemukan hinaan atau ejekan atau juga bahkan penolakan dari sesama manusia. Namun sebagai Umat Kristen (anak Terang), hendaknya kita menyikapi penolakan atau hinaan tersebut dengan sikap yang bijak. Serta pula gunakan pengalaman tersebut sebagai sarana untuk menumbuhkan iman yang dapat menyadarkan kita agar selalu senatiasa bersandar pada Kekuasaan-Nya, bukan bersandar pada kehebatan kita atau juga kemampuan kita sendiri.
Mari kita sebagai Umat Kristen terbuka pada panggilannya, serta dapat mengembangkan sikap optimistis, karena Tuhan selalu ada dan senatiasa turut campur tangan berkarya dalam setiap tugas perutusan kita. Jadilah saksi-Nya yang benar, dengan hidup penuh Integritas, melaksanakan dan juga menghayati apa yang kita wartakan. Sehingga banyak membawa orang untuk semakin dekat kepada-Nya.
Akhir kata, Selamat berkarya untuk kemuliaan nama Tuhan. Amen




