Total Tayangan Halaman

Tentang Jemaat (analogi dengan kayu bekas yang dikumpulkan untuk mendirikan sebuah bangunan baru)

Bagi kebanyakan orang, mungkin kayu – kayu bekas adalah sesuatu yang tak berharga. Namun tidak bagi pemuda bernama Monang ini. Ia melihat bahwa kayu – kayu bekas adalah sesuatu yang masih bermanfaat dan berharga. Dalam pandangan matanya ia mengetahui bahwa meski tergolong bekas, namun kayu tersebut masih bisa dipergunakan. Akhirnya ia pun membuat suatu planning sederhana namun terukur.


Ia pun mengambil batang – batang kayu bekas dari sebuah rumah (tempat pengeringan jagung). Yang mana kayu ini memang sudah lama terbengkalai dan tak dipakai lagi oleh pemilikinya. Satu per satu batang –batang kayu itu ia kumpulkan. Kemudian ia mengambil kapak milik kakeknya, lalu menebangi beberapa pohon dari hutan (ladang) milik kepunyaannya sendiri. Setelah berhasil ditebang, ia pun kemudian memotongnya menjadi empat persegi. Dengan semangat dan kerja keras, serta bermodalkan kapak milik kakeknya, ia memotong kayu yang berasal dari ladangnya tersebut. Kemudian tak lupa ia kumpulkan semua kayu yang telah dipotongnya tadi. Baik kayu tua maupun kayu baru ia susun rapih satu persatu.


Alhasil dengan tekad yang dimiliki olehnya, ia pun berhasil membangun sebuah penginapan (pondok). Hanya dengan bermodalkan batang kayu bekas, dan juga pohon milikinya sendiri ia mampu mendirikan sebuah bangunan (penginapan). Kini bangunan – bangunan tersebut diajdikannya sebagai resort (villa). Dimana villa tersebut dinamakan olehnya Monang Village. Selain disewakan vila tersebut juga merupakan tempat berkumpulnya para anggota keluarganya kala natal tiba dan juga pergantian tahun (malam tahun baru).

Di kitab Perjanjian Baru, Rasul Paulus menyampaikan pada jemaat di Efesus, bahwa Tuhan Jesus mendirikan sebuah bangunan baru untuk menyatukan orang percaya, baik orang tersebut yang berasal dari Yahudi maupun non Yahudi. Rasul Paulus juga menyampaikan bahwa bagaimana cara cara Tuhan Jesus mendirikan bangunan tersebut. Hal ini bisa kita lihat dalam surat Rasul Paulus yang tertera di Kitab Efesus Pasal 2 ayatnya yang ke 13, yang berbunyi demikian : “sekarang di dalam KristusYesus kamu, yang dahulu jauh sudah menjadi dekat oleh darah Kristus.

Mengenai hal pekerjaan pembangunan ini, masih tetap terus berlangsung sampai dengan sekarang. Tuhan Allah telah mengangkat kehidupan kita yang terpuruk di masa lalu, kemudian dengan ke Ahlian – Nya, Ia memadukan kita dengan orang yang terpuruk lainnya dan juga telah diselamatkan oleh Darah Tuhan Jesus Kristus. Maka dari itu kita yang sudah diselamatkan harus bisa mengikis segala sifat dan perlakuan buruk kita, serta juga mengerjakan segala sesuatu  pekerjaan dengan penuh sukacita.

Renungan Hari Ini : Melihat analogi tentang kayu bekas diatas, kita bisa mengetahui bahwa kayu bekas tersebut, ada fungsi dan kegunaan bila dipersatukan, sehingga menjadi sebuah bangunan yang layak tinggal dan di tempati. Demikian juga halnya dengan kita umat Kristiani. Tuhan Allah mempersatukan kita, sebagai manusia beragama kristen yang mengaku dan percaya kepada Jesus Kristus. Tak peduli bagaimana masa lalumu. Seperti halnya kayu bekas tadi, sesuatu yang dipandang tidak berguna, namun bila disatukan akan menjadi bangunan indah. Kita Umat Kristen dipersatukan dalam suatu Jemaat dimana pun kita berkumpul dan beribadah. Oleh sebab itu, kita harus mengikis segala perlakuan buruk dan keinginan daging kita, demi memancarkan pribadi, citra, dan karakteristik sebagai Anak Terang.
Apabila artikel yang kami buat berjudul Tentang Jemaat (analogi dengan kayu bekas yang dikumpulkan untuk mendirikan sebuah bangunan baru), dirasa bermanfaat, silahkan bagikan dan share kepada yang membutuhkan. Agar semua orang tahu bahwa semua umat Kristiani adalah umat pilihan Allah yang dipersatukan dalam Darah Jesus Kristus

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »