Total Tayangan Halaman

Jadilah Umat Kristen Yang Dapat Dipercaya dan Berintegritas

Integritas atau Integrity dapat diartikan sebagai satunya kata dengan perbuatan. Artinya apa yang diucapkan sama dengan apa yang diperbuat/dilakukan. Hal mengenai (integritas) ini juga termasuk sebuah kejujuran menjadi sesuatu hal yang terpenting di sepanjang abad. Apabila anda sesekali melukai integritas, maka anda akan kehilangan modal pribadi terbesar dalam hidup anda, yakni hilangnya sebuah kepercaan (trust). Tanpa kepercayaan (trust), maka anda tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sebaliknya dengan sebuah kepercayaan (trust), maka anda dapat melakukan segala hal.






Dari lapisan social kelas bawah hingga kelas atas sekalipun, anda membutuhkan yang namanya kepercayaan (trust). Kita menyembah Tuhan, karena Dia (Tuhan) memiliki trust. Dan memang dialah sumber dari segala trust. Integrity dan trust diibaratkan sebagai dua keeping sisi mata uang logam (koin) yang tak dapat dipisahkan. Seseorang yang tidak memiliki integritas, maka baginya hanya akan menunggu waktu menuju sebuah ambang kehancuran. Dan tanpa integritas,maka dengan mudahnya seseorang akan menipu dirinya sendiri maupun juga Tuhan.


Memanglah bukan perkara yang mudah untuk memiliki sebuah integritas. Hal ini dikarenakan integritas berbicara tentang komitmen, totalitas, serta kesetiaan secara keseluruhan. Apa yang telah kita ucapkan, maka itulah yang harus kita perbuat atau lakukan. Sebagai anak-anak Tuhan dan generasi terang dunia, sudah seharusnya kita umat Kristiani memiliki integritas. Apabila kita mengatakan “aku mengasihi Engaku Tuhan” atau “Tuhan adalah tujuan yang terutama dalam hidupku”, maka kita haruslah membuktikan ucapan kita tersebut dengan tindakan atau perbuatan. Sejauh manakah kita mengahasi Tuhan? Benarkah Tuhan adalah prioritas utama dalam kehidupan kita? Lalu apa buktinya?

Kita dapat mempelajari tentang integritas ini dari kehidupan Yohanes Pembaptis. Ia begitu benar-benar tulus dalam menjalani kehidupan dan tugasnya sebagai pandu untuk orang-orang sezamannya, agar dapat berjumpa dengan Mesias Sang Juru Selamat. Dua hari setelah pembaptisan Jesus Kristus, Yohanes Pembaptis masih berada di sekitaran sungai Yordan. Dalam kitab Perjanjian Baru Injil Yohanes Pasal 1 ayatnya yang ke 29 disebutkan bahwa, esok harinya Yohanes Pembaptis melihat Jesus. Masih dalam kitab yang sama dan pasal yang sama juga, Yohanes Pembaptis berkata ………”Lihatlah Anak Domba Allah” (Kitab Injil Yohanes pasal 1 ayat ke 35-36). Ucapan Yohanes Pembaptis tersebut terdengar oleh kedua orang muridnya. Kemudian setelah itu, kedua murid dari Yohanes tersebut pergi meninggalkannya dan mengikut Jesus.




Sejak awal pelayanannya, Yohanes Pembaptis dikenal sebagai seorang yang berseru-seru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Lewat perjumpaannya dengan Jesus tersebut, setelah acara pembaptisan tersebut, Yohanes Pembaptis pun semakin mencintai panggilannya. Hingga ia pun bukan hanya pembuka jalan, melainkan mau mengikut Jesus Kristus, Sang Jalan Kehidupan, sehingga genaplah seperti apa yang pernah diucapkannya dahulu kala, bahwa membuka kasut talinya pun tak layak (untuk mewujudkan tugas seorang pelayan/hamba), diwujud nyatakan dengan menjadi seorang pengikut Jesus Kristus yang setia.




Renungan Hari Ini : Oleh karena itu, saudara saudara seiman, ingatlah bahwa tugas perutusan tidaklah mudah, namun dimanapun kaki kita melangkah, maka kehadiran kita haruslah membawa damai dan sukacita. Mungkin sering kali dalam menjalankan tugas panggilan kita, tak jarang kita menemukan hinaan atau ejekan atau juga bahkan penolakan dari sesama manusia. Namun sebagai Umat Kristen (anak Terang), hendaknya kita menyikapi penolakan atau hinaan tersebut dengan sikap yang bijak. Serta pula gunakan pengalaman tersebut sebagai sarana untuk menumbuhkan iman yang dapat menyadarkan kita agar selalu senatiasa bersandar pada Kekuasaan-Nya, bukan bersandar pada kehebatan kita atau juga kemampuan kita sendiri.



Mari kita sebagai Umat Kristen terbuka pada panggilannya, serta dapat mengembangkan sikap optimistis, karena Tuhan selalu ada dan senatiasa turut campur tangan berkarya dalam setiap tugas perutusan kita. Jadilah saksi-Nya yang benar, dengan hidup penuh Integritas, melaksanakan dan juga menghayati apa yang kita wartakan. Sehingga banyak membawa orang untuk semakin dekat kepada-Nya.

Akhir kata, Selamat berkarya untuk kemuliaan nama Tuhan. Amen

Jalan Tuhan VS Kehendak Kita (Manusia)

Salah satu hal terindah dalam kehidupan kita yang terjadi pada umat Kristiani, yang percaya dan mengimani akan keberadaan Kristus sebagai Juru Selamat dan Penebus adalah kita akan belajar untuk mengenali Jalan-Jalan Tuhan yang teramat luar biasa. Namun Jalan Tuhan ini pada nyatanya sering kali bertentangan dengan jalan-jalan kita (tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki).


Terkadang Jalan Tuhan ¡tu amat ganjl atau aneh menurut penilaian dan pandangan kita. Dan hal ini sulit untuk dibayangkan maupun digambarkan. Jalan-jalan Tuhan terkadang juga sering kali bertentangan dengan apa yang kita inginkan dan kita harapkan . Sebab ada tertulis bahwa  rancangan Tuhan bukanlah rancangan kita (Baca Kitab Perjanjian Lama, Yesaya Pasal ke 55 : 8-9).
Yesaya 55 :8-9 (dewasarohani.blogspot.co.id)

Lalu timbul pertanyaan dalam hati kita, mengapa Tuhan mendesign Jalan-JalanNya sedemkan rupa?
Kita yang belum memiliki kedekatan yang intim dengan Tuhan akan mengira dan beranggapan bila Jalan Tuhan itu akan selalu serupa atau sama dengan kehendak yang kita ingini sendiri. Sering kali kita salah kaprah dan terlalu cepat menyimpulkan. Apabila sesuatu telah terjadi didalam kehidpan kita, dan yang terjadi tersebut sesuai dengan kehendak dan harapan kita, maka kita dengan cepat akan menyimpulkan bahwa Inilah Jalan Tuhan. Namun sebaliknya, apabila ada sesuatu hal yang terjadi dalam kehidupan kita tidak sesuai dengan harapan kita maka dengan egois kita akan menyatakan bahwa Ini Bukanlah Jalan Tuhan.

Bila kit abaca Kitab Suci kita Alkitab, maka kita akan menemukan bahwa sering kali bahwa Jalan Tuhan itu justru amatlah bertentangan dengan segala logika, kehendak dan keinginan kita. Sebagai contoh, kita terjadi kelaparan dan kekeringan, Tuhan malah justru membawa Elia ke sungai Kerit. Dan lihatlah apa yang terjadi? Burung burung Gagak memberinya makan. Bila kita lihat contoh diatas, dan kita renungi bahwa apa yang telah dialami oleh Elia tersebut, amatlah tidak masuk akal dan logika kita. Akan tetapi ketahuilah bahwa itulah Jalan Tuhan, yang tidak dapat kita selami.


Dunia ini berprinsip bahwa segala kejahatan yang terjadi dan menimpa pada kita maka haruslah kejahatan itu dibalas dengan kejahatan juga. Bahkan sering juga pembalasan itu rupanya lebih sadis dan keji. Namun berbeda dengan ajaran Kristus Jesus. Jalan Tuhan mengajarkan bahwa kita haruslah bisa mengasihi semua orang termasuk juga orang yang membenci kita maupun musuh kita. Ketahuilah Jalan Tuhan sudah dirancang agar kita sebagai manusia yang percaya senatiasa tinggal dalam Dia dan belajar untuk tunduk melakukan Kehendak-Nya.

Renungan Hari Ini : Sudahkah kita sebagai umat Kristiani mengetahui bahwa Jalan Tuhan tak sama dengan kehendak kita?


Demikianlah Renungan Harian Kristiani mengenai hal Jalan Tuhan VS Kehendak Kita (Manusia) yang dapat kami bagi kali ini. Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah mengakses situs blog ini. Suatu kehormatan bagi kami atas kunjungan kalian ke blog ini. Apabila artikel yang kami buat berjudul Jalan Tuhan VS Kehendak Kita (Manusia) dirasa bermanfaat, silahkan bagikan dan share kepada yang membutuhkan.  Terima Kasih, Kiranya Kasih dan Damai Tuhan Allah Bapa, Tuhan Jesus Kristus, serta Roh Kudus kiranya selalu menyertai kita semua. Gbu.