Total Tayangan Halaman

Jadilah Kristen Yang Mau Mengalah dan Berkorban

Yesus menunjukkan kepada warga Kerajaan Allah, dalam khotbah Nya yang kala itu diadakan di sebuah bukit, dalam khotbahnya ini Jesus menyatakan bahwa mereka tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan.





Mengalah Bukan Berarti Kalah

Selain itu dalam khotbanya juga ia menyatakan kepada setiap umat krsiten agar tidak menyimpan dendam . Bukan hanya itu saja Ia juga mengajarkan pula bahwa janganlah kita membalas dendam, ataupun berlaku (bertingkah laku/ berbuat) hal yang sama, seperti mereka yang telah bertindak jahat terhadap kita. Namun sebaliknya, Tuhan Jesus mengajarkan bahwa kita harus mau melakukan yang jauh melebihi mereka dengan cara mengampuni (Baca dan lihat kitab Amsal pasal 20 ayat 22; dan kitab Roma pasal 12:7).

Kitab Amsal 20;22

Dalam pengajaranNya, Tuhan Yesus menyebutkan tiga hal terpenting untuk menunjukkan sikap kesabaran yang harus dimiliki oleh seorang Kristen terhadap kejahatan-kejahatan yang mereka terima di dunia ini. Ke tiga hal itu yakni sebagai berikut ini:

Apabila kita ditampar pipi kanan, kemudian berikanlah pula pipi kirimu
(Hal ini menunjukkan bahwa kita sebagai umat Kristen siap untuk menanggung lebih);
Tamparan pada pipi, bukan hanya menimbulkan rasa sakit, tetapi suatu pelecehan dan penghinaan ( lihat perjanjian baru 2 Kor. 11:20). Yesus menganjurkan bahwa jika seseorang itu mengalami hal dilecehkan, dihina dan atau juga disakiti maka bersiaplah untuk menerima tamparan berikutnya lagi, dan haruslah kita sudah sepatutnya unutk menanggung semuanya itu dengan sabar. Seseorang umat Kristen yang percaya tidak diperkenankan untuk melakukan pembalasan atau membalas kejahatan dengan perbuatan kasar. Sebab kita harus mengetahui bahwa perlawanan hanya akan membuat keadaan menjadi semakin keruh/kompleks
(Baca kitab Amsal 25:22). Ganti rugi yang kita terima adalah dari Kristus itu sendiri, di mana suatu penghinaan yang kita dapatkan tadi akan dibalaskan dengan kemuliaan kekal jika kita mau menanggungnya dengan ketulusan, sukacita dan sikap yang sabar.


Ilustrasi Memberikan Jubah

Berikanlah  jubahmu (Menunjukkan suatu sikap yang siap untuk lebih mengalah) :
Dahulu kala di Negara Israel dalam Penanganan  hukum disediakan oleh negara untuk menuntut hak dan keadilan. Biasanya hal ini dimanfaarkan atau dilakukan terhadap kerugian yang menimbulkan suatu kerugian yang amat besar. Namun sayangnya kala itu, Walaupun para hakim dalam sebuah pengadilan sudah berlaku adil, masih ada kesempatan untuk orang-orang jahat menggunakan hukum untuk menindas orang lain dan mengenai hal ini pun sudah sejak lama terjadi (baca perjanjian lama Pengkhotbah  5:7).

Yang mau dimaksud dalam ilustrasi kejadian ini adalah daripada menggunakan jalur    hukum     untuk    menuntut  balas dendam,  dan bersusah payah    mempertahanka  kebenaran sendiri, adalah Jauh ebih penting dan lebih baik mengalah untuk perdamaian, jika kita tidak bisa merebut apa yang menjadi hak kita dengan cara yang adil, lebih baik kita biarkan orang yang berbuat jahat tersebut mengambilnya.


Berjalan sejauh 2 mil (menunjukkan suatu sikap untuk siap melayani Lebih):

Hal ketiga yang diajarkan Yesus Kriistus dalam ilustrasinya adalah mengenai lebih baik melayani dari pada dilayani. Jangan pernah kita memikirkan kerugian kecil dan jangan pernah mempermasalahkannya. Kita harus bisa siap memberi kepada orang yang meminta kepada kita, dengan sewajarnya (lihat Mazmur 112:5), supaya jangan kita memberikannya kepada orang yang malas dan tidak Jayak menerimanya. Kita harus memberikan kepada orang yang membutuhkannya dan memang layak menerimanya. Dan kita juga harus siap memberiikan kepada  orang yang meminjam  kepada kita.

Pinjaman yang layak kepada orang yang mau berusaha, jadilah orang yang mudah ditemui oleh dia yang mau meminjam walaupun ia merasa malu dan kurang percaya diri untuk menyampaikan masalahnya dan meminta pertolongan, kita harus bisa menawarkan  kebaikan kepada setiap orang yang membutuhkan kebaikan itu dari kita. Kita harus siap siaga dalam segala perbuatan baik, sambutlah mereka yang lemah, bahkan yang menyakiti kita, karena Allah pun akan menya mbut kita dengan berkat berlimpah ruah, Amen.

Sebab Allah Sudah Membuktikan Kasih-Nya Kepada Kita Maka Hendaknya Kita Mengasihi Allah Lebih Dari Segala Hal

Pada suatu ketika kebaktian di hari Minggu di suatu gereja, aku takjub dan kagum pada seorang bayi putih mulus yang belum ternoda yang berada persis tepat di kursi barisan hadapan depanku. Bayi (Balita) putih mungil yang lucu ini seketika melongok dari balik pundak ibunya, sorot matanya yang berbinar mengisyaratkan rasa penuh keingintahuan. Sesekali ia memandangi sekelilingnya (orang-orang yang sedang khusuk beribadah kepada Pencipta-Nya). Sambil melihat sekitar bayi ini menggigit-gigit jari jemarinya yang gemuk, mengiler (mengences), dan tersenyum kepada semua orang yang dilihatnya.


Karena begitu senangnya saya memandangi bayi ini khotbah sang pendeta pun tak lagi saya dengar dan perhatikan. Mata saya berulang kali hanya memperhatikan gerak-gerik lucu dari bayi (balita) imut ini. Seperti ilustrasi keadaan di atas, seperti itulah yang terjadi dalam kehidupan kita ini. Pengalihan perhatian bisa datang dalam berbagai cara bentuk mapun ukuran yang tak terkira. Sesuatu yang seharusnya kita anggap amat penting seperti misalnya mengisi rohani kita dengan mendengarkan khotbah/ceramah Pendeta, namun justru kita mengabaikannya karena lantaran asyik melihat tingkah lucu sang bayi. Dalam alkitab Perjanjian Baru juga terjadi seperti ilustrasi diatas, bagaimana Marta saudara dari Maria lebih memilih asyik menyibukkan diri untuk memasak, menyapu dan membersihkan rumah, serta menghidangkan jamuan untuk Tuhan Jesus.



Memang sikap Marta benar bila kita pandang dari menjamu seseorang, namun bila kita lihat secara seksama bahwa dalam kitab Injil Lukas pasal ke 10 ayat 38 sampai dengan ayat ke 42. Diceritakan bahwa Marta tidak menghiraukan apa yang tengah dibicarakan oleh Tuhan Jesus. Seolah-olah Marta hanya perlu dan ingin melayani Tuhan Jesus dari segi menghidangkan makanan (memasak). Berbeda dengan Maria saudara dari Marta ini, Maria memilih untuk duduk di dekat Tuhan Jesus dan memperhatikan apa yang tengah dibicarakan oleh Tuhan Jesus (mengenai hal ini lihat dan baca Kitab Injil Lukas pasal ke sepuluh ayatnya yang ke 39).


Marta yang melihat Maria hanya duduk diam di dekat Jesus kemudian menggerutu lantaran Maria ini tak mau membantu Marta dalam menghidangkan sajian masakan. Tuhan Jesus yang melihat Marta Menggerutu kemudian tak tinggal diam, Lantas Tuhan Jesus pun berkata kepada Marta, sebab Maria telah memilih hal yang terbaik. Apabila kita memperhatikan perkataan Tuhan Jesus ini kita diingatkan bahwa hubungan kita dengan Tuhan jauh lebih penting dari segala hal apapun juga.

Hubungan kita dengan Tuhan ini jauh lebih teramat penting dari semua hal baik yang dapat membuat perhatian kita terpikat untuk sementara waktu. Beberapa orang ada yang mengatakan dan beranggapan bahwa sesuatu yang baik itu adalah menjadi penghalang, bagi suatu hal yang terbaik. Namun ketahuilah dan yakinilah bahwa bagi pengikut Tuhan Jesus Kristus sesuatu yang terbaik dalam hidup ini ialah dapat mengenal Tuhan Jesus & Segala Kebenaran-Nya serta berjalan bersama-Nya dalam ketetapan-Nya.


Ketika tengah asyik melihat seorang balita (bayi) di kebaktian sebuah Gereja saya pun jadi teringat dengan masa kecil saya dahulu, ketika menjadi seorang anak. Dimana salah satu kenangan yang paling indah semasa kecil saya, yang pernah saya alami adalah rutinitas tiap pagi hari ketika bangun tidur. Rutinitas tiap pagi tersebut adalah dimana orang tua saya terutama ayah saya masuk ke kamar tidurku dan memanggil namaku dengan penuh kelembutan kasih sayang. Dengan perlahan ayahku pun kemudian membangunkanku dan mengingatkan bahwa pagi sudah datang segera beraktifitas dan jangan lupa sarapan.

Sekarang waktu telah berganti dan kini aku beranjak dewasa dan menjadi seorang ayah atas anak-anaku. Rutinitas yang tempo dulu dilakukan oleh ayahku kini aku pun melakukannya terhadap semua anak-anakku. Aku pun teringat pada sebuah cerita dalam Alkitab Kita Kejadian, bahwa Abraham rela mempersembahkan anaknya (bernama Ishak). Pagi pagi buta Abraham sudah bangun dari tidurnya kemudian ia pergi ke tempat Ishak dan membangunkannya. Sontak hal ini pun mengingatkanku pada kejadian ketika aku membangunkan anakku di pagi hari.

Tentunya hari itu pada waktu Abraham hendak menepati Janjinya kepada Allah dimana akan mempersembahkan anaknya (Ishak) pastilah rasa bergejolak timbul dalam hati Abraham kala itu. Pastilah di pagi itu hati Abraham sedih bercampur aduk dengan cemas dan kecewa anaknya yang sudah dinantikannya sejak lama harus dipersembahkan untuk Tuhan Allah. Namun demi menepati perintah Tuhan Allah ia pun rela membangunkan anaknya dan akan mempersembahkannya.
Setelah Ishak bangun kemudian ia dan ayahnya (Abraham) berjalan pergi ke suatu tempat dimana ia akan dipersembahkan. Begitu kuatnya hati Abraham sebagai seorang Bapak, jalan bersama dengan anaknya yang dikasihi satu-satunya ini, yang mana ia harus kuat berjalan dan menunjukkan bahwa hari itu adalah perpisahan terakhirnya dengan anaknya tersebut. Lalu Ishak pun kemudian diletakkan di sebuah mezbah Tuhan, Namun ketika Ishak sudah siap dipersembahkan, kemudian perlahan Abraham perlahan mendengar perkataan Tuhan Allah bahwa Tuhan Allah sudah melihat hati dan kesungguhan Abraham menepati perintah-Nya. Lalu berfirmanlah Tuhan Allah kepada Abraham bapak dari Ishak ini, ambillah domba yang didekatmu itu dan gantikan posisi Ishak dengan domba tersebut. Lalu Abraham pun bergegas menggantikan anaknya (Ishak) ini dengan seekor domba sama seperti yang diperintahkan oleh Tuhan.


Setelah cerita pembersahan Abraham ini berlalu kemudian beratus ratus tahun selanjutnya, Tuhan Allah Bapa telah menyediakan korban keselamatan yang lain, yakni anak-Nya yang tunggal sendiri yaitu Kristus Jesus. Tuhan Allah sendiri melakukan ini karena lantaran ia mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya. Jadi jangan pernah lagi terbersit dalam pikiran kita untuk bertanya-tanya apakah benar kita dikasihi oleh Tuhan Allah? Sedikit pun kita tak boleh ragu akan Kasih Tuhan kepada kita. Sebab sudah barang tentu kita yang disebut sebagai anakNya ini dikasihi dan dipelihara olehNya. Oleh sebab itu kita harus selalu bersyukur senantiasa atas Kasih Allah yang sudah diberikan kepada kita sepanjang hari dan sepanjang hidup kita.

Milikilah Semangat Berkobar-kobar yang Menyala Untuk Tuhan

Seruan Tuhan Allah Bapa di zaman Yoel bisa kita lihat di dalam kitab Perjanjian Lama Yoel pasal 3 ayat yang ke 9 maklumkanlah............bersiaplah untuk peperangan.....suruhlah......tampil dan maju (selengkapnya baca kitab yoel). Seruan untuk di zaman Yoel ini juga berlaku bagi kita manusia Umat Tuhan yang dikasihi-Nya yang hidup pada akhir zaman ini. Tuhan Allah mengkehendaki bila kita harus menjadi Jemaat yang tangguh dan kuat bermental bak seorang pahlawan, dan bukan sebaliknya menjadi jemaat yang rapuh, lemah imannya dan mudah untuk putus asa serta tak boleh juga egois mementingkan diri sendiri, sebab perlu diketahui bahwa masa ini adalah masa penuaian.


Tuhan berfirman kepada Umat-Nya (baca kitab Yoel pasal 3 ayat 13 samapi ke 14). Bahwa disebutkan dalam kitab tersebut bila kita harus siap menghadapi masa penentuan (penuaian). Kita harus menggunakan dan mengandalkan Tuhan dalam kesempatan yang masih ada ini sebaik mungkin untuk bekerja di ladang-nya.


Sebagaimana yang telah Tuhan pesankan sebelum ia naik ke Surga, yakni kita akan menerima kuasa-Nya apabila Roh Kudus turun dan menaungi kita (baca kita Perjanjian Baru Kisah Rasul pasal 1 ayat ke delapan). Bagaiamana kita dapat bersaksi dan memenangkan jiwa-jiwa untuk Tuhan, sedangkan kehidupan rohani kita lemah, mudah stres/frustasi, dan terus menerus dalam kekalahan? Sekaranglah saatnya bagi kita untuk bangkit dan mengkoreksi diri agar kita benar-benar dapat berperan secara efektif di masa-masa akhir ini sebagai saksi Kristus Jesus. Oleh karena itu “marilah kita hendaknya menanggalakn semua dosa dan tekun dalam perlombaan (baca kitab Ibrani pasal ke 12 ayat 12a).


Kita harus memiliki mental yang kuat untuk menduduki sebuah negeri yakni mental sebagai prajurit Kristus Jesus. Dengan memiliki mental seperti ini kita senantiasa akan mendapat hidup berkemenangan di dalam Tuhan Allah setiap hari, hingga semangat untuk melayani Tuhan yang mana semangat tersebut terus menyala dan tak pernah akan padam serta berkobar untuk selamanya.

Adalah hal yang sangat penting bagi kita untuk senantiasa mau mengkonsumsi makanan yang keras dari Firman Tuhan setiap hari. Hal ini dikarenakan sebab kita bukanlah seorang bayi, dan harus terus bertumbuh setiap hari agar dewasa secara rohani, dengan memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan Allah.


Oleh karena itu saudaraku kekasih yang seiman, teruslah lakukan perbuatan baik bagi Tuhan dan jangan pernah menunda-nunda lagi. Bahan bacaan untuk renungan : Kitab Yoel pasal 3 ayat 9

MILIKILAH PENGHARAPAN SEKALIPUN DALAM RATAPAN

Apabila kita memperhatikan kehidupan ini secara umum/global yang tengah terjadi di negeri kita tercinta ini, mungkin sebagian dari kita akan mengalami pesimis, dan hilang harapan. Mungkinkah segelintir dari orang-orang ada di negeri ini mampu bertindak benar, jujur dan adil. Atau timbul juga pertanyaan dalam diri kita mampukah orang-orang yang benar dan jujur di negeri ini mampu mengatasi mereka orang-orang yang sudah dirasuki oleh roh ketamakan, keegoisan dan roh-roh duniawi yang lain yang telah membaurkan nilai-nilai luhur yang ada?


Lihatlah apa yang telah terjadi di negeri ini!! sesuatu yang keliru, secara moral salah, namun ketika dilakukan secara massa (beramai-ramai) bisa dianggap benar. Dan sebaliknya justru yang seharusnya benar secara moral namun malah dianggap aneh. Di tengah situasi dan keadaan yang seperti sekarang ini kita biasanya amat merindukan terjadinya miracle (keajaiban) atau muzijat dahsyat yang datang. Dalam situasi yang terdesak sebagian dari kita bahkan mau untuk melakukan hal apapun, sekalipun itu dosa atau salah. Di saat keadaan darurat atau terjepit segala kemungkinan bisa saja kita lakukan, sekalipun itu mengaburkan nilai-nilai integritas atau panggilan iman yang kita percayai dan Imani.

Bukan hal yang tak mungkin terjadi apabila sebagian dari kita alergi terhadap hal-hal rohani. Saat di bawah ancaman, tekanan, dan di tengah keadaan sulit, sering kali kita justru mau untuk melakukan segala cara, sekalipun itu menghujat Tuhan sekalipun. Bahkan saat dalam keadaan kebingungan, penderitaan, kekecewaan (patah hati), sering kita mengingkari iman kita dan tak luput kita juga sering melakukan kebohongan. Saudaraku kekasih yang seiman, ingatlah Tuhan lebih dari apapun di dunia ini. Orang yang hidupnya tanpa pengharapan sejatinya ia sudah tak memiliki gairah hidup dan tak memiliki tujuan hidup. Bahkan orang yang seperti ini hidup dalam kehampaan, dan melihat hidup hanyalah sebagai beban. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan sebagai umat Kristen yang baik?


Menggantikan Ketakutan Dengan Iman


Dalam pemberitaan yang tertulis dalam kitab perjanjian lama Yeremia pasal ke 33 ayat ke 14 sampai 16, ditegaskan bahwa dalam kitab tersebut bahwa Tuhan pastilah menepati semua Janji-Janji-Nya. Apa sajakah janji-janji Tuhan tersebut yang hendak ditepati oleh-Nya? Lalu pemulihan yang seperti apa yang hendak dilakukan oleh Tuhan Allah?

- Menumbuhkan tunas keadilan bagi Daud, kepemimpinan bangsa Yehuda yang selama ini sangat jauh dari prinsip-prinsip keadilan akan segera dipulihakan oleh Tuhan Allah. Dan hal ini akan terjadi pada keturunan raja Daud (David).
- Melaksanakan kebenaran dan menegakkan keadilan di negeri Yehuda; apa yang dirindukan oleh rakyat selama ini yaitu kebenaran dan keadilan akan dilaksanakan oleh Tuhan Allah sendiri melalui pemimpin yang ditumbuhkan-Nya.
- Membebaskan Yehuda;pembebasan dari segala penindasan para penguasa yang lalim, dan dari penindasan bangsa lain serta keterpurukan.
- Memberikan kehidupan yang tenteram bagi Yerusalem;tidak ada lagi ancaman, intimidasi, kehawatiran, keputusasaan, dan kegelisahan,;sebaliknya yang akan diberikan ialah rasa aman, rasa nyaman, rasa damai serta feel at home.

Atas dasar itulah kemudian kaum Israel dan Yehuda akan dipanggil sebagai “Tuhan keadilan kita”. Firman Tuhan ini menyemangati kita kembali, bahwa seburuk dan separah apapun kondisi kita dan situasi kita saat ini, Tuhan pastilah mampu berkarya, Dia mampu memulihkan-Nya, dan itulah pengharapan kita. Dan kita sebagai umat-Nya sudah pasti percaya bahwa Tuhan akan menepati semua Janji-Nya itu.


Pengharapan bagi umat Kristen adalah pengharapan yang diletakkan kepada Tuhan, bahkan sekalipun segala sesuatunya sudah nampak mustahil bagi manusia. Sebab itu sebagai umat-Nya, pengharapan kita hanya kita letakkan pada Tuhan Allah saja. Segala sesuatu yang kita miliki saat ini, tidak dapat menjanjikan kedamaian dan ketentraman bagi kita, bahkan sering kali pekerjaan atau jabatan itu menjadi masalah ketika kita menyalahgunakannya.


Bisa saja di tempat kita bekerja atau berkarya baik itu di institusi pemerintahan atau juga institusi swasta, termasuk institusi penegak hukum, atau juga institusi pendidikan, menjadi sumber ketidakadilan dan ketidakbenaran. Demikian juga dengan uang, kekuasaan dan ketenaran, tidak dapat menjanjikan sesuatu yang pasti bagi kita.


Meskipun awan badai mungkin berkumpul meskipun hujan mungkin mengguyur kita, pengetahuan kita tentang Injil dan kasih kita bagi Bapa Surgawi dan Juruselamat kita akan menghibur dan mendukung kita serta mendatangkan sukacita dalam hati kita sewaktu kita berjalan dengan benar menaati perintah-perintah. Tidak akan ada apapun di dunia ini yang dapat mengalahkan kita, Sebab Tuhan Allah, Tuhan Jesus Kristus, serta Roh Kudus senantiasa ada bersama kita. Amin.

Jadilah Pemenang

Umat Kristen adalah pemenang bahkan lebih dari pada pemenang. Bila kita melihat kalimat atau frasa ini tentunya kita sebagai umat kristen akan berbesar hati, dan berbangga.


Awal menuju sebuah kemenangan bukanlah kekalahan, namun kemenangan, yaitu Kristus (baca 1 Korintus 15;57). Kita harus bersyukur dan bersuka cita sebab Kristus Jesus telah memberikan kemenangan pada kita. Dalam Alkitab tercatat bahwa kita umat kristen berangkat dari kemanangan menuju pada kemenangan, dari iman kepada iman. Rasul Paulus sendiri menyatakan bahwa keyakinan yang teguh dalam Injil, sebab Injil adalah kekuatan yang berasal dari Tuhan Allah yang dapat memberi keselamatan kepada setiap orang percaya.


Oleh sebab itu, Daud sangat bermegah di dalam Tuhan, (Baca Mazmur Pasal 20 ayat 8). Orang yang menaruh harapnya kepada Tuhan, akan memperoleh kemenangan dalam hidupnya karena"....Tuhan memberi kemenangan kepada......(Untuk selengkapnya silahkan baca Mazmur 20:7).


Adalah hal yang sia-sia bila dalam hidup ini kita menaruh harap pada kekuatan manusia dan juga kepada kekayaan atau harta benda yang kita miliki, sebab semuanya itu tidak akan dapat menolong dan menyelamatkan hidup kita. Kita harus bersyukur kepada Tuhan, karena kita mempunyai kemenangan yang mutlak melalui Tuhan Jesus Kristus, yaitu kemenangan dalam segala aspek kehidupan telah diberikan kepada setiap kita, karena itu"....saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah.......(untuk selengkapnya baca di kitab 1 Korintus 15 ayat 58).

Melalui kuasa kebangkitan Tuhan Jesus Kristus hendaknya kita disadarkan bahwa kita yang percaya dan beriman adalah umat pemenang, bukan lagi seorang pecundang. Saat kita menerima Jesus sebagai Juruselamat pribadi, maka saat itu pula kita menerima kuasa dan memiliki hidup yang berkemenangan itu.

Oleh karenanya kita harus terus menggali janji-janji Tuhan melalui kebenaran firman Tuhan dan membuang segala pikiran negatif (anggapan buruk)  yang sering kali membelenggu kita dengan segala keterbatasan. Arahkan dan pusatkan pikiran kita kepada Jesus Kristus saja.
Ingatlah!!!! Oleh karena kematian, penderitaan, dan kebangkitan Tuhan Jesus Kristus, kita hidup dapat beroleh kemenangan.


Dalam kitab Roma pasal 1 ayat 16-17 tertulis bahwa orang yang benar itu hidup oleh iman. Lalu bagaimana menjadi orang kristen yang Pemenang? Pertama kita harus tahu apa rahasia kemenangan kita, yakni rahasia tersebut aalah kematian Jesus di kayu salib yang menebus, memberi damai, serta membebaskan kita dari belenggu setan dan dosa-dosa. Yang  Kedua adalah kita harus mengetahui posisi kita dalam Jesus Kristus. Rasul Paulus sendiri mengatakan dalam kitab Roma pasal 8 ayat 37 bahwa dalam Kristus kita harus menjadi lebih dari pemenang (more tahn conquerors). Apabila kita menginginkan kemenangan kita harus memulainya dengan kemenangan. Sebab kekalahan, keraguan, dan keputus asaan bukanlah modal yang bisa kita pakai untuk membangun sebuah kehidupan yang berkemenangan. Yang Ketiga adalah mau mempergunakan peralatan dan kekuasaan(otoritas) yang sudah ada disediakan Tuhan Allah untuk kita. Otoritas atau kekuasaan tersebut adalah kuasa untuk patuh. Tuhan Jesus senditi sebagai Kepala gereja dan pemegang tertinggi kuasa (baca matius 28 ayat 18-20 dan Filipi 2 ayat 9-11). Dan Tuhan Jesus Kristus sendiri telah memberi delegasi otoritas atau kuasa tersebut kepada Gereja-Nya.

Sang Pemilik Kebahagian Sejati

Semua orang yang hidup di dunia ini tentunya ingin sekali mendambakan kehidupan yang berbahgia. Namun kriteria atau ukuran kebahagiaan itu dari setiap orang tentunya berbeda-beda. Ada seseorang yang mengukur kebahagiaan dari memiliki harta/materi yang banyak (bahagia diukur dari status kepemilikan), namun tak sedikit juga orang yang mengukurnya dari pencapaian sesuatu.


Tuhan Jesus Kristus sendiri telah mengajarkan kepada kita umat-Nya tentang pencapaian kebahagiaan. Namun Jalan dan Kriteria serta Ukuran Tuhan Jesus sangatlah berbeda dengan kriteria dunia pada umumnya. Alkitab sendiri juga membahas mengenai hal kebahagiaan ini. Tercatat bahwa dalam Kitab Injil Matius pasalnya yang ke 5 ayat 1 sampai dengan 12. Dimana di Injil ini terlihat jelas bahwa kekhasan kriteria yang dimiliki oleh Tuhan Jesus tentang kebahagiaan.

Sebagian banyak dari kita menganggap bahwa yang memiliki kebahagiaan adalah orang yang memiliki banyak kemampuan di hadapan Allah atau orang yang begitu unggul dalam hal rohani. Akan tetapi Alkitab mencatat bahwa Tuhan Jesus berkata bahwa “ Berbahagialah mereka yang miskin dihadapan Allah…(untuk selengkapnya silahkan buka Alkitab Injil Matius 5 ayat ke 3).



Tak sedikit juga orang yang mengukur kebahagiaan dari Uang yang dimiliki. Semakin banyak uang yang dihasilkan tentunya akan berbahagia. Kita mengira bahwa uang adalah akar dari kebahagiaan, sehingga banyak kita lihat bahwa banyak manusia yang menghabiskan waktunya untuk mencari uang. Padahal bila kita lihat Alkitab, dikatakan bahwa uang adalah sumber atau akar dari suatu kejahatan (mengenai hal ini bisa kita lihat di Kitab 1 Timotius Pasal 6 ayat ke 10).



Ada juga pula orang yang mengira bahwa mereka yang memiliki kebahagiaan adalah orang yang tertawa lebar, namun bila kita lihat perkataan Tuhan Jesus di Injil Matius pasal 5 ayat ke 4 bahwa “ Berbahagialah mereka yang berdukacita……dst (untuk selengkapnya silahkan baca Alkitab Injil Mat 5 ayat ke 4). Demikian pula ayat-ayat selanjutnya yang terdapat di Injil Matius.

Namun bila kita melihat ayat ke 8 di Kitab Injil Matius 5 ini, ada hal yang menarik untuk kita simak. Dikatakan dalam ayat tersebut bahwa “Berbahagialah mereka orang-orang yang suci hatinya……dst (selengkapnya baca Alkitab Injil Mat 5 ayat yang ke 8). Dari ayat tersebut bisa kita lihat bahwa orang yang berbahagia menurut Tuhan Jesus adalah orang yang memiliki hati yang bersih dan suci hati.


Bersih di sini diartikan sebagai tidak tercemar atau juga tak dikotori. Bersih juga mengandung arti tulus, polos atau murni. Kita memang selalu ingin tampak bersih. Misalnya saja, dalam keseharian, kita selalu menginginkan tampilan dengan wajah yang bersih, pakaian bersih. Dalam hal mengkonsumsi makanan pun sering kali kita ingin menggunakan piring bersih, makanan yang bersih, sendok yang bersih, garpu yang bersih dan lain-lain. Selalu saja kita ingin terlihat bersih sebab itu kita membersihkan yang kelihatan. Harus kita ketahui yang kita lihat itu hanyalah bagian luar saja atau dengan kata lain yang terlihat bersih oleh kita adalah bagian luar saja.


Oleh karena itu kita harus mengingat bahwa haruslah juga merawa atau membersihkan yang tak kelihatan juga. Apa itu? Yakni hati kita sendiri. Lalu apa makna dari membersihkan hati. Faedah dari hati yang bersih yakni kita dapat melihat Allah (Baca Kitab Matius Pasal 5 ayat ke 8). Berkat hati yang bersih kita dapat melihat Tuhan Allah, sebab segala sesuatu yang ia lakukan tanpa lain karena Tuhan Allah dan untuk Allah, tanpa untuk kepentingan-kepentingan sendiri.

Apabila kita melihat orang-orang yang melakukan segala sesuatu hal tanpa ketulusan hati, sering kali orang-orang tersebut mengalami kekecewaan, dan ketidaktentraman dalam hatinya.

Belajar Untuk Memendam Keinginan Membalas

Apabila kita ditampar oleh seseorang, refleks dari kita biasanya akan membalas perbuatan tamparan tersebut. Bahkan lebih dari itu, jika kita ditampar sekali orang seseorang, kita malah ingin membalasnya dengan dua kali. Demikian juga apabila kita dihina oleh seseorang, refleks dari kita biasanya akan juga membalas hinaan tersebut. Tuhan Jesus juga berfirman melalui Sabdanya bahwa apabila ada seseorang yang menampar bagian pipi kanan kita, berikanlah juga pipi kananmu.


Ketika Tuhan Jesus menghadap Imam Besar, ia ditampar oleh salah seorang penjaga. Namun saat Tuhan Jesus ditampar, Dia tidak berdiam diri melainkan memberikan pipi kirinya. Bukan hanya itu saja Tuhan Jesus juga sembari memberikan pipi kiri, Ia pun berkata (Lihat Injil Yohanes pasal 18:22-23). Dimana di kita ini diceritakan bahwa Tuhan Jesus, juga membalas dengan kata-kata demikian “Apabila Aku bersalah, tunjukkanlah kesalahan-Ku, Namun bila Aku benar lantas mengapa engkau menamparku?”.

Sepintas bila kita melihat cerita renungan diatas, memang terlihat bertolak belakang, namun bila kita renungkan lebih dalam lagi, ada makna yang terdapat diajarkan oleh Tuhan Jesus lewat ilustrasi cerita tersebut. Tuhan Jesus tidaklah berdiam diri, saat diri-Nya ditampar, ia lantas memberikan pipi kirinya, kemudian bertanya dimana letak salahnya, dan mengapa ia sampai ditampar?” Untuk lebih jelasnya kita harus mengetahui terlebih dahulu makna dari ungkapan memberi pipi kiri.

Di zaman dahulu kala, di Israel apabila terjadi sengketa atau perselisihan dua orang di muka umum, seseorang boleh untuk memaki lawannya secara habis-habisan di muka umum. Dalam bahasa Yahudi itu disebut dengan menampar pipi. Setelah itu lawannya boleh membalas dengan cacian atau makian. Dalam gaya bahasa yahudi ini dikenal dengan membalas tamparan.

Pada zaman dahulu di Tanah Israel juga ada sebuah kebiasaan dalam hal pinjam meminjam barang. Misalkan apabila kita meminjam barang dari seseorang, maka seseorang tersebut berhak untuk meminta jaminan dari kita. Dan apabila kita lalai dalam memberikan jaminan tersebut maka kita dapat melaporkan pada pihak yang berwajib.

Ada pula kebiasaan lain yang terjadi di Israel di zaman dahulu kala yakni suatu kebiasaan dalam membantu orang asing. Apabila ada seseorang (orang asing) yang menanyakan suatu daerah maka kita diwajibkan untuk menunjukkan jalan dan juga menghantarkannya orang asing tersebut sejauh satu mil. Selain itu selama dalam perjalanan kita diwajibkan pula untuk menjaga keselamatan (bertanggung jawab) atas keselamatan orang asing itu.

Jadi sebenarnya makna yang bisa kita petik dan ambil dari seluruh ilustrasi diatas adalah tentang hak kita untuk digunakan oleh orang lain. Mungkin memang terlihat bahwa ketika kita merelakan hak tersebut, seakan kita terlihat kalah dari orang itu, sedangkan sebaliknya orang itu terlihat lebih menang dari kita. Namun ketahuilah tindakan itu bukanlah tentang kekalahan, melainkan tentang hal suatu tindakan mengalah. Kalah bukanlah berarti tak menang, sedangkan mengalah berarti dengan sengaja kalah atau tidak mempertahankan hal yang sudah seharusnya menjadi miliki kita.

Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari intisari artikel ini ialah bahwasnya dalam menjalin setiap relasi dengan sesama kita, tentunya akan timbul suatu konflik-konflik yang mungkin saja masalah atau konflik tersebut, bukanlah karena kelalaian atau kesalahan yang kita perbuat. Disinilah terlihat kedewasaan iman kita diuji dan sikap kita diasah untuk belajar mengalah. Kita belajar untuk mengasihi sesama manusia, terutama pada orang yang telah berbuat salah pada kita.
Terkadang kita harus mengalah dalam menghadapi orang yang tak sabar. Ingatlah bahwa mengalah itu bukanlah berarti suatu kekalahan, sebab dengan mengalah sering kali terjadi pada kita bahwa kita akan mendapatkan kemenangan.

Oleh sebab itu keberanian tidak dapat diukur dari pembalasan, tetapi dari sikap mengalah. Seseorang dikatakan berani bukan dilihat atau diukur dari bagaimana cara ia membalas, akan tetapi bagaimana cara ia rela mengalah untuk menghindari dari permusuhan dan perbuatan saling melukai sesama. Kiranya kasih Tuhan sumber cintah kasih terus memampukan kita untuk tetap mengasihi sesama meskipun telah terluka, Amen.

Jadilah Umat Kristen Yang Dapat Dipercaya dan Berintegritas

Integritas atau Integrity dapat diartikan sebagai satunya kata dengan perbuatan. Artinya apa yang diucapkan sama dengan apa yang diperbuat/dilakukan. Hal mengenai (integritas) ini juga termasuk sebuah kejujuran menjadi sesuatu hal yang terpenting di sepanjang abad. Apabila anda sesekali melukai integritas, maka anda akan kehilangan modal pribadi terbesar dalam hidup anda, yakni hilangnya sebuah kepercaan (trust). Tanpa kepercayaan (trust), maka anda tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sebaliknya dengan sebuah kepercayaan (trust), maka anda dapat melakukan segala hal.






Dari lapisan social kelas bawah hingga kelas atas sekalipun, anda membutuhkan yang namanya kepercayaan (trust). Kita menyembah Tuhan, karena Dia (Tuhan) memiliki trust. Dan memang dialah sumber dari segala trust. Integrity dan trust diibaratkan sebagai dua keeping sisi mata uang logam (koin) yang tak dapat dipisahkan. Seseorang yang tidak memiliki integritas, maka baginya hanya akan menunggu waktu menuju sebuah ambang kehancuran. Dan tanpa integritas,maka dengan mudahnya seseorang akan menipu dirinya sendiri maupun juga Tuhan.


Memanglah bukan perkara yang mudah untuk memiliki sebuah integritas. Hal ini dikarenakan integritas berbicara tentang komitmen, totalitas, serta kesetiaan secara keseluruhan. Apa yang telah kita ucapkan, maka itulah yang harus kita perbuat atau lakukan. Sebagai anak-anak Tuhan dan generasi terang dunia, sudah seharusnya kita umat Kristiani memiliki integritas. Apabila kita mengatakan “aku mengasihi Engaku Tuhan” atau “Tuhan adalah tujuan yang terutama dalam hidupku”, maka kita haruslah membuktikan ucapan kita tersebut dengan tindakan atau perbuatan. Sejauh manakah kita mengahasi Tuhan? Benarkah Tuhan adalah prioritas utama dalam kehidupan kita? Lalu apa buktinya?

Kita dapat mempelajari tentang integritas ini dari kehidupan Yohanes Pembaptis. Ia begitu benar-benar tulus dalam menjalani kehidupan dan tugasnya sebagai pandu untuk orang-orang sezamannya, agar dapat berjumpa dengan Mesias Sang Juru Selamat. Dua hari setelah pembaptisan Jesus Kristus, Yohanes Pembaptis masih berada di sekitaran sungai Yordan. Dalam kitab Perjanjian Baru Injil Yohanes Pasal 1 ayatnya yang ke 29 disebutkan bahwa, esok harinya Yohanes Pembaptis melihat Jesus. Masih dalam kitab yang sama dan pasal yang sama juga, Yohanes Pembaptis berkata ………”Lihatlah Anak Domba Allah” (Kitab Injil Yohanes pasal 1 ayat ke 35-36). Ucapan Yohanes Pembaptis tersebut terdengar oleh kedua orang muridnya. Kemudian setelah itu, kedua murid dari Yohanes tersebut pergi meninggalkannya dan mengikut Jesus.




Sejak awal pelayanannya, Yohanes Pembaptis dikenal sebagai seorang yang berseru-seru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Lewat perjumpaannya dengan Jesus tersebut, setelah acara pembaptisan tersebut, Yohanes Pembaptis pun semakin mencintai panggilannya. Hingga ia pun bukan hanya pembuka jalan, melainkan mau mengikut Jesus Kristus, Sang Jalan Kehidupan, sehingga genaplah seperti apa yang pernah diucapkannya dahulu kala, bahwa membuka kasut talinya pun tak layak (untuk mewujudkan tugas seorang pelayan/hamba), diwujud nyatakan dengan menjadi seorang pengikut Jesus Kristus yang setia.




Renungan Hari Ini : Oleh karena itu, saudara saudara seiman, ingatlah bahwa tugas perutusan tidaklah mudah, namun dimanapun kaki kita melangkah, maka kehadiran kita haruslah membawa damai dan sukacita. Mungkin sering kali dalam menjalankan tugas panggilan kita, tak jarang kita menemukan hinaan atau ejekan atau juga bahkan penolakan dari sesama manusia. Namun sebagai Umat Kristen (anak Terang), hendaknya kita menyikapi penolakan atau hinaan tersebut dengan sikap yang bijak. Serta pula gunakan pengalaman tersebut sebagai sarana untuk menumbuhkan iman yang dapat menyadarkan kita agar selalu senatiasa bersandar pada Kekuasaan-Nya, bukan bersandar pada kehebatan kita atau juga kemampuan kita sendiri.



Mari kita sebagai Umat Kristen terbuka pada panggilannya, serta dapat mengembangkan sikap optimistis, karena Tuhan selalu ada dan senatiasa turut campur tangan berkarya dalam setiap tugas perutusan kita. Jadilah saksi-Nya yang benar, dengan hidup penuh Integritas, melaksanakan dan juga menghayati apa yang kita wartakan. Sehingga banyak membawa orang untuk semakin dekat kepada-Nya.

Akhir kata, Selamat berkarya untuk kemuliaan nama Tuhan. Amen

Jalan Tuhan VS Kehendak Kita (Manusia)

Salah satu hal terindah dalam kehidupan kita yang terjadi pada umat Kristiani, yang percaya dan mengimani akan keberadaan Kristus sebagai Juru Selamat dan Penebus adalah kita akan belajar untuk mengenali Jalan-Jalan Tuhan yang teramat luar biasa. Namun Jalan Tuhan ini pada nyatanya sering kali bertentangan dengan jalan-jalan kita (tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki).


Terkadang Jalan Tuhan ¡tu amat ganjl atau aneh menurut penilaian dan pandangan kita. Dan hal ini sulit untuk dibayangkan maupun digambarkan. Jalan-jalan Tuhan terkadang juga sering kali bertentangan dengan apa yang kita inginkan dan kita harapkan . Sebab ada tertulis bahwa  rancangan Tuhan bukanlah rancangan kita (Baca Kitab Perjanjian Lama, Yesaya Pasal ke 55 : 8-9).
Yesaya 55 :8-9 (dewasarohani.blogspot.co.id)

Lalu timbul pertanyaan dalam hati kita, mengapa Tuhan mendesign Jalan-JalanNya sedemkan rupa?
Kita yang belum memiliki kedekatan yang intim dengan Tuhan akan mengira dan beranggapan bila Jalan Tuhan itu akan selalu serupa atau sama dengan kehendak yang kita ingini sendiri. Sering kali kita salah kaprah dan terlalu cepat menyimpulkan. Apabila sesuatu telah terjadi didalam kehidpan kita, dan yang terjadi tersebut sesuai dengan kehendak dan harapan kita, maka kita dengan cepat akan menyimpulkan bahwa Inilah Jalan Tuhan. Namun sebaliknya, apabila ada sesuatu hal yang terjadi dalam kehidupan kita tidak sesuai dengan harapan kita maka dengan egois kita akan menyatakan bahwa Ini Bukanlah Jalan Tuhan.

Bila kit abaca Kitab Suci kita Alkitab, maka kita akan menemukan bahwa sering kali bahwa Jalan Tuhan itu justru amatlah bertentangan dengan segala logika, kehendak dan keinginan kita. Sebagai contoh, kita terjadi kelaparan dan kekeringan, Tuhan malah justru membawa Elia ke sungai Kerit. Dan lihatlah apa yang terjadi? Burung burung Gagak memberinya makan. Bila kita lihat contoh diatas, dan kita renungi bahwa apa yang telah dialami oleh Elia tersebut, amatlah tidak masuk akal dan logika kita. Akan tetapi ketahuilah bahwa itulah Jalan Tuhan, yang tidak dapat kita selami.


Dunia ini berprinsip bahwa segala kejahatan yang terjadi dan menimpa pada kita maka haruslah kejahatan itu dibalas dengan kejahatan juga. Bahkan sering juga pembalasan itu rupanya lebih sadis dan keji. Namun berbeda dengan ajaran Kristus Jesus. Jalan Tuhan mengajarkan bahwa kita haruslah bisa mengasihi semua orang termasuk juga orang yang membenci kita maupun musuh kita. Ketahuilah Jalan Tuhan sudah dirancang agar kita sebagai manusia yang percaya senatiasa tinggal dalam Dia dan belajar untuk tunduk melakukan Kehendak-Nya.

Renungan Hari Ini : Sudahkah kita sebagai umat Kristiani mengetahui bahwa Jalan Tuhan tak sama dengan kehendak kita?


Demikianlah Renungan Harian Kristiani mengenai hal Jalan Tuhan VS Kehendak Kita (Manusia) yang dapat kami bagi kali ini. Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah mengakses situs blog ini. Suatu kehormatan bagi kami atas kunjungan kalian ke blog ini. Apabila artikel yang kami buat berjudul Jalan Tuhan VS Kehendak Kita (Manusia) dirasa bermanfaat, silahkan bagikan dan share kepada yang membutuhkan.  Terima Kasih, Kiranya Kasih dan Damai Tuhan Allah Bapa, Tuhan Jesus Kristus, serta Roh Kudus kiranya selalu menyertai kita semua. Gbu.

Buta Namun Melihat

Gangguan penglihatan serius seperti kebutaan atau buta dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti misalnya penyakit dan kecelakaan. Hal ini bisa mempengaruhi saraf optic, mata, maupun otak. Saat ini terdapat banyak orang matanya sehat secara fisik, namun nyatanya buta secara rohani. Hingga orang – orang ini pun tak mampu melihat karya karya dari Tuhan yang ajaib di sekitar mereka. Hal yang sama juga rupanya telah dialami oleh banyak orang Farisi. Ketika berhadapan dengan orang yang buta sejak lahir, namun dengan keajabain Tuhan Jesus orang ini dapat disembuhkan. Kisah ini terdapat di dalam Alkitab Perjanjian Baru, Injil Yohanes pasalnya yang ke 9 ayatnya yang ke 1 sampai dengan 41.
Orang buta yang disembuhkan oleh Tuhan Jesus ini, setelah mengenal bahwa Jesus adalah Mesias sang Anak Manusia, segeralah orang buta ini sujud menyembah kepada-Nya. Dia bahkan menjadi percaya dan mengikut Jesus. Dia yang sedari lahir buta, namun memiliki mata rohani yang peka yang mampu melihat karya karya ajaib Tuhan Jesus. Ketahuilah bahwa Tuhan yang kita sembah di dalam nama Jesus Kristus ini bukan hanya mampu menyembuhkan mata orang buta, bukan hanya dapat membangkitkan orang lumpuh, bahkan lebih daripada itu, Ia juga mampu untuk menyembuhkan hati seseorang. Hati yang sekarang melihat dan percaya bahwa Jesus adalah Sang Mesias. Mereka tidak tahu bila Sang Mesias ini datang untuk memanggil domba – domba Israel. Sang Mesias datang bukan untuk menghakimi mereka yang berdosa. Di dalam kedatangan-Nya ini, Dia datang untuk memanggil orang – orang berdosa. Kita harus menyadari bila sebagai manusia biasa, kita memerlukan Sang Juruselamat. Dan bila cermati Injil Yohanes ini, di bagian akhir pasal yang ke 9 ini, ada sesuatu ironi yang terjadi, yang menarik untuk kita telaah. Bahwa Jesus datang untuk memberikan penglihatan bagi orang buta secara fisik. Namun di lain hal, Tuhan Jesus juga datang membuat buta orang yang merasa benar melihat (merasa benar).
Orang – orang buta ini sering kali dianggap sebagai orang berdosa. Namun, orang – orang ini sadar betapa besar dosa mereka dan betapa besar mereka memerlukan Kristus Jesus. Akan tetapi, beda halnya dengan orang – orang yang mampu melihat, atau merasa melihat. Orang – Orang yang semacam ini (yang merasa melihat) merupakan orang yang buta secara rohani, kerohaniannya kering, hanyalah sebatas rutinitas aktivitas bergereja semata. Mereka tidak sadar bahwa dengan keadaan rohani seperti ini, sebenarnya mereka buta dan terkurung di dalam dosa.

Dengan demikian apa yang telah menjadi pelajaran berharga bagi kita?

1. Kebenaran dan Karya Allah yang ajaib telah dinyatakan melalui orang buta itu. Karenanya si buta itu percaya bahwa ia telah mengalami sesuatu yang dahsyat yang terjadi didalam hidupnya. Hanya orang – orang yang menyadari kebutaannya, yang dapat melihat kebenaran. Hanya orang – orang yang menyadari kelemahannya sendiri yang akan menjadi kuat. Hanyalah orang – orang yang menyadari akan dosa – dosanya bisa mendapat pengampunan dari Tuhan.

2. orang yang buta secara rohani akan menjalani kehidupannya berdasarkan rasa takut pada Manusia. Sementara orang yang melek secara rohani akan menjalani kehidupannya pada takut akan Tuhan. Awalnya pengemis itu buta secara rohani akan tetapi, ketika ia membuka hati di hadapan Tuhan Jesus kini mata dan hatinya kemudian dibukakan oleh Tuhan. Mengapa karena ia mau mendengarkan firman Tuhan, ia mempercayainya, ia taat dan pada akhirnya ia mengalami kasih karunia Allah. Sangat berbeda dengan orang – orang farisi, secara jasmani mereka dapat melihat, akan tetapi mereka buta secara rohani, mereka melihat penyembuhan itu dengan antipati. Orang – Orang farisi yang telah melihat kebesaran Tuhan Jesus bahwa bisa menyembuhkan kebutaan ini, seakan orang farisi tersebut tak mau menerima. Justru mereka mencari celah, dan mencari kesalahan Tuhan Jesus. Adapun proses penyembuhan ini dilakukan oleh Tuhan Jesus di hari Sabat. Yang mana orang farisi ini dikenal taat pada hari Sabat. Ketika hari Sabat tiba, maka semua umat dilarang untuk bekerja. Dan proses penyembuhan kebutaan ini dilakukan oleh Tuhan Jesus dengan cara meludah di tanah dan kemudian mengaduk – aduknnya, lalu adukan tadi di olesi kemata si buta. Proses semacam inilah yang dimaksud oleh orang farisi dalam kategori bekerja. Orang farisi ini adalah cerminan orang yang buta secara rohani. Bagaimana tidak, mereka tak mau melihat karya ajaib Tuhan. Hanya karena proses penyembuhan dilakukan di hari Sabat, membuat orang farisi tersebut menjadi buta secara mata rohani.



Renungan Hari Ini : Oleh karena itu, marilah kita saudara saudara seiman, tetap terus menjaga mata rohani kita. Janganlah kita buta secara mata rohani sehingga tak dapat mampu melihat karya karya ajaib dari Tuhan Jesus.

Demikianlah Renungan Harian Kristiani mengenai hal Buta Namun Melihat yang dapat kami bagi kali ini. Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah mengakses situs blog ini. Suatu kehormatan bagi kami atas kunjungan kalian ke blog ini. Apabila artikel yang kami buat berjudul Buta Namun Melihat dirasa bermanfaat, silahkan bagikan dan share kepada yang membutuhkan. Terima Kasih, Kiranya Kasih dan Damai Tuhan Allah Bapa, Tuhan Jesus Kristus, serta Roh Kudus kiranya selalu menyertai kita semua. Gbu.

Di Dalam Tuhan Kita Kuat


Secara jasmani kita akan menjadi takut dan lemah apabila meilhat keadaan dunia yang sungguh tak menentu ini. Banyak berbagai macam bencana terjadi dimana – mana, yang mana tidak dapat diprediksi kapan bencana tersebut akan datang. Selain itu banyak juga terjadi perang antar saudara sebangsa, dan juga tindakan anarkis lainnya yang dilakukan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Yang mana hal ini sering kali kita lihat di beritakan di berbagai media.


Setiap dari kita sebagai umat kristiani haruslah sadar bahwa di masa ini kita berada dalam masa yang sukar. Namun sebagai anak – anak Tuhan kita tidaklah boleh berkecil hati, maupun menciutkan nyali. Namun sebaliknya, justru kita harus semakin melekatkan dan mendekatkan diri kita kepada Tuhan Jesus Kristus. Di dalam Alkitab Perjajian Lama, Kitab Mazmur pasalnya yang  ke 84 ayatnya yang  ke 6 – 8, disebutkan bahwa kita Manusia haruslah berbahagia bila kekuatan kita ada di dalam Tuhan. Bayangkan saja ayat ini begitu hebat menguatkan iman Kristiani kita. Bahwa di pasal kitab Mazmur tersebut disebutkan bila melintasi alam baka, mereka akan membuatnya menjadi tempat bermata air. Dan bahkan hujan di awal musim menyelubunginya menjadi berkat.
Kita sebagai umat Kristiani yang percaya pada Tuhan Jesus Kristus, dapat melewati masa masa sulit apabila kita mengandalkan Tuhan senatiasa dalam segala hal. Bisa kita lihat, bahwa orang yang mengandalkan Tuhan, hidupnya semakin hari tak akan semakin lemah, malahan justru bertambah kuat dari hari ke hari. Bisa kita baca dan lihat dalam Perjanian Baru Kitab 2 Timotius pasalnya yang ke 1 ayatnya yang ke 7, bahwa kitab ini menyatakan bahwa Tuhan Allah bukan memberikan roh ketakutan pada kita, melainkan roh yang dapat membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Selain itu di kitab Efesus 6 ayatnya yang ke 11 dikatakan bahwa kita harus mengenakan semua perlengkapan senjata Allah untuk dapat bertahan dan melawan tipu muslihat iblis. Apa itu senjata Allah? Yang dimaksud dengan senjata Allah adalah firman Tuhan itu sendiri. Kita harus makan manna Sorgawi, yakni firman Tuhan ini setiap hari, sehingga tubuh rohani kita semakin bertambah kuat dan bertumbuh.
Firman Tuhan akan dapat kita perole apabila setiap dari kita dapat membangun suatu hubungan yang akrab dengan Tuhan secara pribadi setiap waktunya. Sunggulah benar apabila Daud berkata, lebih baik satu hari berada di pelataran-Nya daripada dibandingkan seribu hari berada di tempat lain, lebih baik berada di amabang pintu rumah Tuhan Allah daripada kita berada berdiam diri di perkemahan orang fasik. Itulah kunci kekuatan kita di dalam Tuhan.

Renungan Hari Ini : Oleh sebab itu, marilah kita semua saudara saudara seiman, untuk tetap terus senantiasa membangun hubungan yang akrab dengan Tuhan Allah kita. Sebab kekuatan yang kita dapatkan untuk menjalani kehidupan ini adalah berasal dari Firman Tuhan. Tetaplah terus untuk membaca Firman Tuhan setiap hari, agar dalam menjalani kehidupan ini kita tetap kuat bersama Allah.

Demikianlah Renungan Harian Kristiani mengenai hal Di Dalam Tuhan Kita Kuat yang dapat kami bagi kali ini. Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah mengakses situs blog ini. Suatu kehormatan bagi kami atas kunjungan kalian ke blog ini. Apabila artikel yang kami buat berjudul Di Dalam Tuhan Kita Kuat dirasa bermanfaat, silahkan bagikan dan share kepada yang membutuhkan. Terima Kasih, Kiranya Kasih dan Damai Tuhan Allah Bapa, Tuhan Jesus Kristus, serta Roh Kudus kiranya selalu menyertai kita semua. Gbu.